DESI SHOLEHA: KETIKA NILAI RELIGI, BUDAYA, DAN INOVASI PELAYANAN PUBLIK BERSATU MEMBANGUN DESA SEHAT

  • Jul 06, 2026
  • Riyan Puspa

"Kadang masyarakat lebih percaya pesan yang datang dari telepon genggam dibandingkan penjelasan tenaga kesehatan."

Kalimat sederhana itu menjadi kegelisahan yang terus dirasakan para tenaga kesehatan di Desa Selok Anyar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Berbagai penyuluhan telah dilakukan. Poster dipasang, leaflet dibagikan, Posyandu rutin diselenggarakan, bahkan tenaga kesehatan mendatangi rumah-rumah warga. Namun satu per satu capaian program kesehatan justru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.

Data berbicara dengan jujur. Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap yang pada tahun 2020 mencapai 92,53 persen, turun menjadi 72,6 persen pada tahun 2021 dan kembali merosot menjadi 62,5 persen pada tahun 2022. Pada saat yang sama, masih terdapat puluhan balita stunting dan capaian Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) belum memenuhi target. Di balik angka-angka tersebut tersimpan satu persoalan besar yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyediakan pelayanan kesehatan.

Musuh terbesar ternyata bukan lagi keterbatasan fasilitas, melainkan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap informasi kesehatan.

Hoaks mengenai imunisasi berkembang dari mulut ke mulut, berpindah dari grup WhatsApp ke media sosial, lalu menjadi "kebenaran baru" yang dipercaya sebagian masyarakat. Isu bahwa imunisasi membuat anak sakit, tidak halal, bahkan menyebabkan gangguan kesehatan tertentu lebih cepat diterima dibandingkan penjelasan ilmiah dari tenaga kesehatan. Penyuluhan yang disampaikan secara formal sering kali kalah menarik dibandingkan informasi yang dibumbui rasa takut.

Tim Promosi Kesehatan Puskesmas Pasirian kemudian menyadari bahwa persoalannya bukan terletak pada apa yang disampaikan, melainkan bagaimana cara menyampaikannya.

Mereka mulai kembali melihat kehidupan masyarakat Desa Selok Anyar. Hampir setiap pekan terdengar lantunan sholawat di mushala, masjid, rumah warga, hingga berbagai kegiatan sosial. Pengajian selalu dipenuhi jamaah. Arisan ibu-ibu selalu diawali dengan sholawat. Bahkan dalam berbagai hajatan, masyarakat lebih memilih menghadirkan grup Al-Banjari dibandingkan hiburan lainnya.

Di sanalah muncul sebuah gagasan sederhana sekaligus revolusioner.

Bagaimana jika pesan kesehatan tidak disampaikan melalui ceramah, tetapi melalui sholawat?

Dari pertanyaan itu lahirlah DESI SHOLEHA (Desa Siaga dengan Sholawat Kesehatan).

Bukan sekadar mengganti media penyuluhan, DESI SHOLEHA mengubah paradigma komunikasi kesehatan. Pesan tentang imunisasi, pencegahan stunting, gizi keluarga, kesehatan ibu dan anak, PHBS, hingga pencegahan penyakit menular disusun menjadi syair sholawat yang sederhana, mudah dihafal, dan dilantunkan bersama masyarakat.

Kini, setiap bait sholawat bukan hanya berisi pujian kepada Rasulullah SAW, tetapi juga mengajak orang tua membawa anak ke Posyandu, melengkapi imunisasi, memberikan makanan bergizi, menjaga kebersihan lingkungan, tidak merokok di dalam rumah, serta menerapkan perilaku hidup sehat.

Tanpa terasa, masyarakat belajar kesehatan sambil melakukan aktivitas yang mereka cintai.

DESI SHOLEHA kemudian hadir di mana-mana. Di Posyandu, sebelum pelayanan dimulai, kader bersama masyarakat melantunkan sholawat kesehatan. Di pengajian, pesan tentang imunisasi disampaikan melalui lagu yang mudah diingat. Dalam arisan ibu-ibu, edukasi gizi dibalut syair yang dinyanyikan bersama. Di pertemuan Desa Siaga, kader berlatih menyampaikan komunikasi kesehatan menggunakan pendekatan budaya lokal. Bahkan pesan-pesan tersebut diperkuat melalui video YouTube, Facebook, dan WhatsApp sehingga dapat diakses kapan saja oleh masyarakat.

Inovasi ini membuktikan bahwa budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga dapat menjadi solusi pembangunan kesehatan.

Hasilnya mulai terlihat. Masyarakat yang sebelumnya ragu membawa anaknya imunisasi mulai kembali datang ke Posyandu. Kehadiran masyarakat dalam kegiatan kesehatan meningkat. Kader semakin percaya diri melakukan edukasi. Pesan kesehatan yang dahulu mudah dilupakan kini justru sering dinyanyikan berulang kali dalam berbagai kegiatan masyarakat.

Perubahan tersebut tercermin pada indikator kesehatan. Setelah penerapan DESI SHOLEHA, cakupan Imunisasi Dasar Lengkap meningkat menjadi 74,66 persen pada tahun 2023, kemudian 76,3 persen pada tahun 2024, dan 76,8 persen pada tahun 2025. Jumlah balita stunting juga terus menurun, disertai meningkatnya capaian PHBS rumah tangga dan semakin aktifnya masyarakat memanfaatkan layanan Posyandu.

Keberhasilan ini tidak dibangun oleh tenaga kesehatan semata. Pemerintah Desa, TP-PKK, tokoh agama, kader Posyandu, pengurus Desa Siaga, hingga masyarakat menjadi bagian dari gerakan bersama. Mereka bukan lagi sekadar penerima informasi kesehatan, tetapi menjadi pelaku utama perubahan di lingkungannya masing-masing.

DESI SHOLEHA membuktikan bahwa inovasi pelayanan publik tidak selalu lahir dari teknologi canggih atau anggaran yang besar. Kadang, inovasi terbesar justru muncul ketika pemerintah mau mendengarkan masyarakat, memahami budaya lokal, lalu menjadikannya sebagai kekuatan untuk menyelesaikan persoalan publik.

Di tengah derasnya arus informasi digital dan semakin masifnya penyebaran hoaks kesehatan, Desa Selok Anyar memilih jalan yang berbeda. Mereka tidak melawan hoaks dengan kemarahan, tetapi dengan pendekatan budaya. Tidak menggurui masyarakat dengan ceramah panjang, tetapi mengajak mereka bersholawat sambil belajar hidup sehat.

Karena pada akhirnya, perubahan perilaku bukan hanya soal pengetahuan, melainkan soal kepercayaan. Dan di Desa Selok Anyar, kepercayaan itu tumbuh melalui lantunan sholawat yang menghubungkan nilai religius, budaya, dan kesehatan dalam satu harmoni.

DESI SHOLEHA bukan sekadar inovasi. Ia adalah bukti bahwa ketika pemerintah mampu berbicara dengan bahasa budaya masyarakat, pelayanan publik tidak hanya hadir—tetapi juga hidup, diterima, dan mengubah kehidupan.